Tu es toujours et tu resteras une lumiere

Mungkin semua yang kamu kenal dari aku adalah tidak pernah nyata. Mungkin yang kamu tahu dari aku hanyalah nama dan bahasaku saja. Aku punya satu yang nyata untukmu, perasaanku, cintaku padamu itu satu-satunya hal nyata yang aku miliki.

Namaku Lix. Delixamara. Aku bukan seperti makhluk kebanyakan. Kalian mungkin akan tertawa terbahak-bahak atau malah bergidik ketakutan. Aku malaikat. Emm, kalau kalian menganggap ini terlalu berlebihan, baiklah aku buat ini lebih simpel, aku makhluk tak kasat mata. No, kalian jangan menyamakan aku dengan hantu, aku bukan hantu! Aku tidak pernah mengganggu makhluk lain, apapun jenisnya, percayalah.

Aku diturunkan ke bumi sudah hampir 1300 tahun yang lalu, tepat di atas Benua Afrika. Berhubung aku makhluk kasat mata, jangan terlalu berat mikir bagaimana aku bisa secepat kilat ada di Berlin, Menara Eiffel Paris, Air Terjun Niagara, berdiri di samping Barrack Obama saat pidato kenegaraan, ada di pertandingan LA Lakers, duduk manis di kursi VVIP pertunjukan Ballet Royal, atau bahkan seperti sekarang, duduk manis disamping kamu. Hahaha, aku bercanda. Kamu pasti sedang menengok kiri kanan kan sekarang?

Kalau kalian pikir malaikat itu tidak bersayap, kalian salah. Aku punya sayap, seperti sayap setidaknya. Aku punya semacam tanda berbentuk sayap di punggungku, seperti tatoo tapi lebih ekstrim karena berwarna merah darah. Itulah satu-satunya alasan kenapa aku tidak pernah memakai gaun off shoulder seumur hidupku.

Aku bisa meniru Angelina Jollie, lalu menjadi Gissele Bundchen, lalu Heidi Klum dalam hitungan detik, iya detik. Tapi maaf kalau itu tidak bisa berlangsung lama, maksimal setengah jam pun sudah harus kembali ke wujud asliku. Kalau aku bertahan dengan wujud tiruanku, tunggu saja tatoo sayap di punggungku akan meradang seperti mengeluarkan bara, dan jujur itu menyiksaku sekali.

‘Jangan kamu tanya perasaan ini apa namanya, aku juga bingung menjelaskannya. Aku hanya… Aku mau selalu ada didekat kamu setiap waktu. Aku mau memastikan bahwa kamu selalu bahagia. Aku mau memastikan bahwa kamu tidak menangis lagi. Aku mau kamu ajak aku kemanapun kamu pergi. Aku mau kamu bagi semua cerita senang dan sedih kamu, amarah kamu ke aku. Dan aku mau… aku mau kamu merasakan yang sama seperti aku…’
‘….’
‘Kamu nggak perlu jawab ini. Ini bukan pertanyaan kok’. Aku tersenyum getir. Dia duduk di pokok pohon Ek dipinggir bukit kesukaan kami. Aku ada dipucuk rantingnya, setengah melayang karena sekarang aku menggunakan sayapku.
‘Aku… Mara, aku harusnya…’ Dia tertunduk diam. Wajah tampannya yang lucu itu menjadi kuyu. Ooh, melihatnya begitu, aku rasanya ingin membenamkan wajahnya dalam dekapanku.
‘Aku sayang kamu Ta, sangat sayang kamu. Kalau kamu pikir makhluk seperti aku nggak punya hati, emm, secara fisik iya. Tapi aku punya perasaan, dan itu satu-satunya yang nyata yang aku punya buat makhluk nyata seperti kamu Ta’.

The Journal

Welcome to The Imagination Worlds....